Followers

Monday, June 11, 2012

Sekilas tentang SVD Indonesia



A. Sejarah Singkat SVD, Visi- Misi dan Spiritualitas

Serikat Sabda Allah (SVD) didirikan pada tanggal 8 September 1875 di Steyl (Belanda) oleh St. Arnoldus Janssen yang lahir pada tanggal 5 November 1837 di Goch (Jerman) dan ditahbiskan imam tahun 1861. Arnoldus Janssen  seorang imam projo dari Keuskupan Muenster (Jerman) mendirikan tiga Kongregasi Misi. Pada tahun 1875, Arnoldus mendirikan sebuah rumah misi  di Steyl, perbatasan Belanda – Jerman yang menjadi rumah atau biara induk SVD atau yang akrab dikenal Serikat Sabda Allah, sebuah serikat biarawan misioner yang beranggotakan imam dan bruder. Menyusul pada tanggal 8 Desember 1889 di Steyl, Arnoldus mendirikan serikat biarawati Abdi-Abdi Roh Kudus (SSpS = Congregatio Servarum Spiritus Sancti) dan di kota yang sama pada tanggal 8 Desember 1896 ia mendirikan serikat biarawati Abdi-Abdi Roh Kudus Penyembahan Abadi (SSpS Ap = Congregatio Servarum Spiritus Sancti de Adoratione Perpetua).
Ada pun Visi SVD adalah : ”Mengambil bagian dalam misi Allah (Missio Dei) untuk membangun Kerajaan Allah dalam misi sebagai dialog profetis, yang  menjangkau semua orang dengan penuh cinta dan penghargaan terhadap martabat manusia dan mengupayakan keadilan dan perdamaian bagi semua orang.” 
Sedangkan Misinya adalah : 1). Mengupayakan perwujudan Kerajaan Allah dalam semangat dialog dengan prioritas empat partner dialog yaitu : a). Dialog dengan orang miskin dan terpinggirkan, b). Dialog dengan orang dari berbagai budaya lain, c). Dialog dengan orang dari berbagai agama lain, d). Dialog dengan para pencari iman dan penganut ideologi sekuler. 2). Memberi warna pada misi sebagai dialog dalam koridor matra-matra khas SVD yakni : Kitab Suci (Biblical Word), Komunikasi (Communicating Word), Animasi Misi (Animating Word) serta Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (Prophetic Word).
 Serikat Sabda Allah memiliki Spiritualitas khusus warisan dari Arnoldus Janssen,  sebagai semangat dasar dan  sumber kekuatan dalam menjalankan seluruh karya misinya. Spiritualitas SVD meliputi : Pertama, Spiritualitas Triniter : Kasih kepada Allah Tritunggal menjadi dasar hidup dan kekuatan bagi kerasulan SVD. Inilah sari pati dari kekuatan guna membantu semua orang, dan anggotanya untuk memperoleh pemenuhan martabat manusia, yakni dalam mengambil bagian dalam hidup komunitas Allah Tritunggal dalam hubungan yang mesra dengan semua  manusia dalam Allah Tritunggal. Hal ini diwujudkan dalam semangat hidup berkomunitas, persaudaraan dan internasionalitas. Kedua, Spiritualitas Misoner. Sebagaimana Bapa mengutus Putera, dan Bapa serta Putera mengutus Roh Kudus, demikian juga SVD ingin mengambil bagian dalam tugas perutusan, mewartakan Sabda Allah sebagai sorang misionaris. Ketiga, Spiritualitas Passing Over, dimana setiap misonaris rela dan berani untuk meninggalkan kemapanan diri yang eksklusif degan orang dan budaya lain dalam melaksanakan karya misionernya.
Di Steyl Arnold Janssen membentuk tenaga-tenaga imam, bruder dan suster untuk karya misi. Yang menjadi latar belakang didirikannya persekutuan misoner itu, selain katerbukaan Arnold Janssen kepada Roh Kudus menjawabi kebutuhan bangsa lain, dia pun tanggap pada situasi bangsa sendiri yang belum punya kotribusi pada pembinaan kader bagi tanah misi. Upayanya  untuk mengirim misionaris ke tanah misi dirangkum dalam semboyannya : ” Di hadapan terang Sabda Allah dan Roh pemberi karunia, lenyaplah kegelapan dosa dan kebutuaan manusia tak beriman. Dan semoga hati Yesus hidup dalam hati semua mansuai ”. 
Sasaran misi pertama SVD adalah Cina. Pada tanggal 2 Maret 1879, P. Yosef Freinademetz diutus sebagai misonaris SVD pertama ke Puoli, Shantung Selatan – Cina. Arnold Janssen juga mengutus hampir 800 orang tenaga misionaris ke daerah-daerah misi seperti, Togo, PNG, Jepang, Filipina, Argentina, Brasilia, Chile, dan Amerika Utara. Pada saat Arnold Janssen wafat, 15 Januari 1909, serikat-serikat misi yang didirikannya mencatat anggota sebanyak 430 imam, 660 bruder, 236 mahasiswa biarawan, hampir 600 suster SSpS misionaris aktif dan 35 suster SSpS Adorasi Abadi. Dewasa ini,  SVD telah merentangkan sayapnya ke  lima benua yaitu Asia, Australia, Amerika, Afrika, Eropa dan kini SVD sudah bekerja di 66 negara.   

B. SVD di Indonesia
1. Konteks Awal Misi di Indonesia
Pada tahun 1913 para misionaris SVD mengambil alih daerah misi, yang pada waktu itu disebut Kepulauan Sunda Kecil, mulai dari Bali sampai ke bagian barat pulau Timor. Para Pater Jesuit (SJ) menyerahkan seluruhnya kepada SVD, kecuali pulau Flores yang ingin dipertahankan terus sebagai wilayah kerja mereka. Tetapi dalam tahun 1914 dengan berat hati Flores diserahkan juga kepada SVD.  
Ketiga misionaris SVD pertama yang datang ke wilayah misi ini, yang waktu itu termasuk wilayah jajahan Hindia Belanda yakni P. Petrus Noyen yang datang dari Cina, P. Arnoldus Verstraelen dari Togo dan P. Fransiskus de Lange dari Amerika Serikat. Ketiganya warga negara Belanda. Dua orang Jerman datang bergabung dengan mereka, kemudian menyusul seorang bruder Jerman dan dua orang bruder Belanda, salah seorang dari keduanya itu datang dari Papua Nugini. Dengan demikian SVD dengan latar belakang misioner yang sama sekali berlainan ditugaskan memulai karya misi baru di negeri ini.
Dalam perkembangan selanjutnya, dengan kearifan yang tinggi dan pandangan jauh ke depan Mgr. Petrus Noyen, Prefek Apostolik Kepulauan Sunda Kecil, memilih Ende sebagai pusat misi. Ia memindahkan kedudukannya dan juga pusat misi dari Timor ke Ndona – Ende, Flores. Dari sinilah Mgr. Noyen mengendalikan  seluruh kegiatan misi SVD di Indonesia. Mgr. Noyen meninggal pada tahun 1921 ketika sedang mengikuti Kapitel Jenderal di Steyl. Beliau digantikan oleh Mgr. Verstraelen yang mampu memperluas wilyah misi  lebih jauh lagi dengan bantuan tenaga-tenaga misionaris baru. Beliau meninggal dunia akibat kecelakaan mobil sesudah bertugas sepuluh tahun sebagai Vikaris Apostolik. Sebagai penggantinya diangkat P. Hendrikus Leven, SVD yang memimpin wilayah misi ini dari tahun 1933 sampai 1951, ketika Flores menjadi tiga Keuskupan.
Dalam waktu yang begitu singkat, dibawah asuhan imam-imam SVD Gereja bertumbuh dengan cepat. Pertumbuhan dan perkembangan misi tersebut tentu saja tidak terlepas dari rintisan awal dari warisan para imam Jesuit terutama melalui sekolah-sekolah. Melalui sekolah-sekolah inilah Gereja berkembang. Pada tahun 1941, uskup mentahbiskan dua orang imam pribumi pertama, keduanya anggota SVD dan tahun 1942/1943 tiga orang lagi ditahbiskan menjadi imam.

2.  Karya Khas SVD
Misi SVD di Nusa Tenggara (Flores, Timor, Bali) berkembang sesuai dengan kharisma serikat. Selain menangani pastoral parokial ( yang didukung dengan karya-karya khas SVD seperti, Kitab Suci, Animasi Misi, JPIC, Komunikasi) dan kategorial (kaum muda, keluarga), SVD pun  mengembangkan kerasulan media dengan dukungan percetakan Arnoldus Ende yang didirikan pada tahun 1926. Banyak buku yang dihasilkan dari percetakan Arnoldus seperti, Kitab Suci, buku katekismus katolik, buku doa, seri dokumen gereja, buku nyanyian, buku misa, buk ofisi,  buku pelajaran agama, majalah Kunang-kunang,  dan Dian.
            SVD juga berkarya di dunia pendidikan dengan membangun beberapa Seminari Menengah seperti, Seminari Mataloko, Seminari Hokeng, Seminari Kisol, Seminari Labuan Bajo, Seminari Lalian  dan Seminari Tuka – Bali, yang kemudian semuanya  diserahkan kepada Keuskupan.  Sedangkan sekolah-sekolah yang dibangun dan tetap dikelolah sebagai milik  SVD yakni,  SMA Syuradikara - Ende, STM Larantuka- Flores Timur,  STM Nenuk - Timor, SMP – SMA Arnoldus Labuan Bajo – Flores Barat, Sekolah SOVERDI (TK, SD, SMP, SMA) di Bali. SVD juga memprakarsai berdirinya Univeritas Widya Mandira Kupang dengan dukungan para uskup se – Nusa Tenggara dan beberapa awam katolik. 
Disamping berkarya di bidang pendidikan formal, SVD juga berkarya  di bidang pendidikan non formal dengan mendirikan perbengkelan kayu dan besi untuk mendidik para pemuda kampung menjadi tukang. Selama dalam pembinaan, para siswa pertukangan pun mendapat pendidikan dasar katekese, liturgi dasar,  Kitab Suci, sehingga setelah tamat dan kembali ke kampung - kampung mereka dapat menjadi kader penggerak umat basis.

3. Mengembangkan sayap ke Keuskupan lain
Setelah empat puluh tahun SVD berkarya pada enam Keuskupan di Nusa Tenggara ada permintaan dari berbagai Keuskupan lain yakni :  Jakarta,  Surabaya, Malang, Samarinda, Palangka Raya, Pontianak, Sanggau, Sorong, Jayapura,  Amboina, Medan, Sibolga dan Pangkal Pinang. Untuk memenuhi permintaan-permintaan ini, keempat Provinsi SVD di Indonesia  yakni, Ende, Ruteng, Timor, dan Jawa,  senantiasa bersedia membenum (mengirim) anggotanya atas persetujuan Dewan General SVD di Roma.
Permintaan untuk para misionaris  SVD Indonesia,  tidak hanya datang dari dalam  negeri tetapi juga dari  luar  negeri. Permintaan yang begitu banyak, ternyata berimbang dengan jumlah panggilan menjadi anggota SVD (frater dan bruder). Perkembangan ini  didukung oleh enam Seminari Menengah yang ada di Timor (Lalian dan Kupang) dan di Flores (Mataloko, Hokeng, Kisol, Labuan Bajo). Calon frater dan bruder  SVD mula-mula dibimbing di Novisiat Kuwu – Manggarai, Novisiat Nenuk – Timor setelah itu yang  frater  melanjutkan studinya di STFT Ledalero - Maumere - Flores. Sedangkan yang calon bruder melanjutkan pembinaan di Ende sebelum mengambil spesialisasi tertentu di Perguruan Tinggi. 
Tahun 1979 SVD mulai membuka Novisiat  di Batu – Malang. Dengan adanya Novisiat dan Seminari Tinggi SVD di Jawa ini,  banyak calon pun  datang dari Jawa, Sumatera, Nias, dan Kalimantan. Para calon ini dibimbing di Postulat Malang dan Novisiat  Batu sebelum melanjutkan studinya  di STF Malang.
Bertambahnya calon seminaris baik di Seminari Tinggi Ledalero maupun Seminari Tinggi Malang,  memungkinkan jumlah tahbisan imam dan kaul kekal bruder semakin banyak.  Karena itu sampai saat ini SVD sudah melayani hampir di semua pulau di dalam negeri,  kecuali di Sulawesi. SVD  Indonesia juga  telah mengirim sekitar 350 misionaris (pastor – bruder) ke Afrika, Amerika Latin, Australia, Amerika, Eropa,  Jepang, Filipina, Taiwan, Hongkong, PNG, Thailand, Timor Leste, dsb.  ** (Fritz Meko, SVD)

No comments:

Post a Comment